Connect with us

Aspirasi

Pelaku usaha kecil di PPS harap normalisasi drainase

Itu nggak masalah, tapi perlu juga perbaikan sarpras (sarana prasarana) disini, terutama drainase. Kalau terus banjir, limbah semakin banyak, kami bisa berkurang semangat kerja

Jakarta – Pelaku usaha skala kecil di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, Muara Baru Jakarta Utara sangat berharap Pemerintah melalui Perum Perindo (Perikanan Indonesia) melakukan normalisasi drainase, mengingat situasi banjir rob masih mungkin terjadi.

Situasi banjir rob diperkirkan terjadi pada tanggal 2 – 3 Januari di PPS seperti pada awal November, Desember yang lalu.

“Saya hanya pedagang es batu (untuk pengawetan ikan) dan buka kantin disini. Tahun 1988, saya mulai masuk ke Muara Baru bekerja sebagai kuli. Tapi dulu dan sekarang, (kondisi) PPS bagaikan bumi dengan langit. Saya sangat berharap, perhatian (Perum) pada normalisasi drainase. Limbah semakin banyak, bau, polusi dari berbagai kegiatan usaha,” salah satu pelaku usaha kecil di PPS Daryo (53) mengatakan kepada Redaksi.

Dia membandingkan upaya pemerintah yang intens menarik penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari pemanfaatan sumber daya alam perikanan. Penerapannya dengan system kontrak sebagai peraturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Saya sebagai pengusaha kecil tidak mempermasalahkan dengan (penarikan) PNBP melalui PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 85/2021. Itu nggak masalah, tapi perlu juga perbaikan sarpras (sarana prasarana) disini, terutama drainase. Kalau terus banjir, limbah semakin banyak, kami bisa berkurang semangat kerja,” kata Daryo.

Pertama kali berusaha di PPS, ia menjadi kuli panggul ikan-ikan hasil tangkapan pemilik kapal. Ia bekerja untuk usaha perikanan milik Haji Duntu dan Ahmad Jafar. Seiring waktu berlalu, ia mencari peluang lain di PPS. Ia mulai lepas dari usaha Haji Duntu lagi, dan mulai melayani usaha perdagangan ikan.

Waktu itu, belum ada usaha pengolahan ikan dengan fasilitas cold storage (CS) tahun 1988 – 1990 an.

“Sebelum di Muara Baru, saya sudah lebih dulu kerja sebagai kuli di Kalibaru Cilincing. Di Muara Baru, sejak kerja untuk Haji Duntu sampai sekarang, (usaha) masih terkait perikanan. Tapi sekarang, karena sudah banyak CS berdiri, perputaran uang disini mencapai Rp 8,5 triliun per tahun. Tapi sayangnya, (prospek PPS) tidak dibarengi dengan tata kelola (pemerintahan) Perindo, UPT (unit pelaksana teknis) Ditjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan,” kata pemilik kantin Mitra Minang di PPS.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Trending